Krisis Air Terjadi di Dieng
Minim
Perhatian Pemerintah, Krisis Air Terjadi di Dieng
Warga
desa Karangtengah, Kecamatan Batur, Banjarnegara, yang berada di Dataran Tinggi
Dieng mengeluhkan minimnya perhatian pemerintah terhadap upaya rehabilitasi
atas kerusakan lingkungan di wilayah mereka. Saat ini, warga di Desa
Karangtengah mengalami krisis air akibat kerusakan lingkungan di Dieng.
Koordinator Kelompok Tani
Wijayakusuma, Batur, Dieng, Slamet Samijaya, Senin (5/4), menuturkan, saat ini
petani di Karangtengah sulit mendapatkan air. Kerusakan lingkungan akibat
eksploitasi lahan Dieng menjadi tanaman kentang mengakibatkan krisis air.
Sumber air sulit didapatkan, sementara sumur-sumur yang ada tercemar pestisida.
“Krisis ini sebenarnya telah
membangkitkan kesadaran sebagian besar petani di Karangtengah untuk
merehabilitasi lingkungan. Kami sudah mencoba menanam pohon tegakan keras.
Tapi, kami tidak memiliki dana untuk mendapatkan bibit. Sampai sekarang tak ada
bantuan sama sekali dari pemerintah,”kata Slamet.
Sejak tiga bulan lalu, petani di
Karangtengah telah menanam 60.000 pohon ekalitus. Pohon sejenis albasia ini
ditanam secara tumpang sari di atas sayuran petani dan dapat tumbuh di ketinggian
2.000 meter di atas permukaan laut. Ekalitus diharapkan dapat menjadi tanaman
alternatif pengganti kentang karena memiliki nilai ekonomis tinggi.
Selain itu, ekalitus juga dapat
menyimpan air sehingga dapat mengatasi masalah kekurangan air, terutama pada
musim kemarau. Dengan berkurangnya tanaman kentang, diharapkan penggunaan
pestisida akan berkurang.
Sekitar 60.000 bibit ekalitus
tersebut didapat petani setempat dari sejumlah instansi swasta, di antaranya
LSM Wijayakusuma, Indonesia Power, PT Geo Dipa Energy, dan PT Rimba Partikel.
Kelompok tani Wijayakusuma pernah mengajukan bantuan pada pemkab setempat,
namun sampai saat ini belum ada realisasi. Diperkirakan untuk tahap ini
dibutuhkan sebanyak 150.000 bibit ekalitus.
“Petani di sini 80 persen tingkat
ekonominya tergolong miskin. Tapi, justru petani miskin seperti ini yang peduli
lingkungan,” ungkap Slamet.
Sumber:
Kompas, 7 April 2010